Sabtu, 15 September 2018

Tentang Rindu dan Tuannya



Yogyakarta, 19 July 2018
Mereka telah kembali bersapa dan berkerumun dengan cerita dan kisah dimasa yang kelam. Tidak pernah saling melupakan namun sudah mengikhlaskan. Rindu dan Tuannyapun sudah tau kemana dia seharusnya pergi.
Ahh seandainya itu datang lebih awal. Tidak akan kutemui dia dengan secangkir kopi malam itu. Tapi alam selalu punya alasan untuk setiap perkara. Dia bawakan luka itu, agar aku bisa bersuka cita dengan apa yang kumiliki saat ini. Alam membiarkanaku bersedih agar aku tahu, patah hati memang sakit hahahahhah
Selamat malam untuk rindu yang sudah tau dimana kamu harus pulang. Tetaplah ada sampai batas menyerah pada kita.
Aku berharap banyak untuk kedua kalinya

Kamis, 23 Juli 2015

pertama

untuk tuanku

hallo apa kabar tuan ? masih ingat dengan wanita malang ini ?
rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku menulis surat untukmu. ya sejak kuputuskan untuk berhenti menulis. kau tahu bukan siapa yang mengajariku untuk menulis, menceritakan segala keluh kesahku dalam barisan kata. ya itu kamu tuan. tapi setelah kamu memutuskan untuk pergi pada akhirnya aku kehilangan inspirasiku. masih ingat pertama kali kau mengulurkan tanganmu dan  menyebutkan namamu bersama garis lengkung manis di bibirmu. ya aku mengingat dengan jelas setiap kejadian itu tuan. ketika kita memutuskan untuk dekat. ahh sudahlah tuan aku tak bisa menuliskannya lagi untukmu. jari ini terlalu kaku untuk mengingat semua cerita kita.
salam

dari wanita yang tak tau pernah kau anggap apa